A.
Masyarakat
Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
1.
Masyarakat
Perkotaan
Masyarakat
perkotaan sering disebut juga urban community.Pengertian masyarakat kota lebih
ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya masyarakat kota dari segi kesibukannya
lebih sibuk, dan dari pekerjaan pun berbeda.
a.
Pengertian Masyarakat
Kelompok manusia yang
disebut masyarakat mengalami proses yang fundamental yaitu adaptasi dan
organisasi dari tingkah laku para anggota dan timbul perasaan berkelompok
secara lambat atau cepat.
b.
Syarat-syarat Menjadi Masyarakat
1. harus ada
pengumpulan manusia
2. telah bertempat
tinggal dalam waktu yang lama disuatu daerah tertentu
3. adanya aturan-aturan
atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan
bersama.
c.
Pengertian Masyarakat Perkotaan
kota juga mempunyai
pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.
Wirth : Kota adalah
suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang
yang heterogen kedudukan sosialnya.
Max Weber : Kota
menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar
kebutuhan ekonominya dipasar lokal.
Dwigth Sanderson : Kota
ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
d.
Ciri-ciri Masyarakat Kota
1. Kehidupan
keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa.
2. Orang
kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung
padaorang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian
kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas
yang nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan
untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada
warga desa.
5. Interaksi
yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari pada
faktor pribadi.
6. Pembagian
waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan
individu.
7. Perubahan-perubahan
sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam
menerima pengaruh dari luar.
e.
Perbedaan Antara Kota Dengan Desa
1.Lingkungan hidup
2.Jumlah penduduk
3.Mata pencaharian
4.Gaya Hidup
5.Solidaritas sosial
f.
Hubungan Desa dengan Kota
Walaupun antara
masyarakat desa dan kota berbeda namun tidak dapat dipisahkan begitu saja,
bahkan dalam keadaan wajar merupakan hubungan yang erat dan saling
ketergantungan karena masyarakat yang butuh pekerjaan di kota dan orang kota
membutuhkan pekerja kasar atau para pekerja dari desa karena para pekerja dari
desa dibutuhkan juga di kota.
2.
Aspek
Positif dan Negatif
A. Aspek
Positif dan Negatif Perkotaan
Perkembangan
kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial , ekonomi , kebudayaan
dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen – komponen yang
memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen suatu kota
sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan ,
seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :
- Wisma
: Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
– Karya
: Untuk penyediaan lapangan kerja.
– Marga
: Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.
– Suka
: Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.
– Penyempurnaan
: Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas
umum.
Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah
kota harus ditingkatkan :
a) Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang
timbul di kota . Untuk itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan
perencanaan kota harus dimilikinya .
b) Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan
tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan
masalah lainnya.
c) Masalah keamanan kota harus dapat ditangani
dengan baik sebab kalau tidak , maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan
masalah baru.
d) Dalam rangka pemekaran kota , harus
ditingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para
pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah
kabupaten dan sekitarnya
b. 5 Unsur Lingkungan Perkotaan
Perkembangan
kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan
dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang membentuk
stuktur kota tersebut. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan
perkotaan setidaknya mengandung 5 unsur yang meliputi :
Wisma : unsure ini merupakan bagian ruang kota yang
dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk
melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini
menghadapkan
>dapat mengembangkan daerah
perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa
mendatang
>memperbaiki keadaan lingkungan
perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak,
dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan
Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi
eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan
bermasyarakat.
Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi
untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya
didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah
lainnya.
Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan
untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan,
kebudayaan dan kesenian
Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi
suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk
fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan
jaringan utilitas kota.
3. Masyarakat
Pedesaan
a. Pengertian
Desa
Pengertian desa menurut Sutardjo
Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum
dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.
Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan
goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu
daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
b. Ciri-ciri Desa
Ada beberapa ciri-ciri desa, yaitu:
- Mata pencaharian penduduk relatif pada sektor
pertanian.
- Perbandingan antara lahan dan penduduk relatif besar.
Yaitu dimana lahan yang luas di huni oleh penduduk yang sedikit.
- Hubungan antar warga relatif akrab.
- Pada umumnya tradisi leluhur masih di pegang kuat.
c. Ciri –ciri Masyarakat desa
Pada buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli
Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat
tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :
- Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih
sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan
perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang
diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
- Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari
Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka
menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya
semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
- Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada
hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah
tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya
berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
- Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat
khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja,
tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau
keturunan.(lawanya prestasi).
- Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas
terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan
eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk
menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat
terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari
luar.
d. Macam-macam Pekerjasan
Gotong Royong
- kerja bakti
- gotong-royong memperbaiki jembatan atau jalan raya
- bembersihkan kampung.
- Membangun rumah
e. Sifat dan Hakekat Masyarakat
Pedesaan
Masyarakat pedesaan mempunyai sifat yang kaku tapi sangatlah
ramah. Biasanya adat dan kepercayaan masyarakat sekitar yang membuat masyarakat
pedesaan masih kaku, tetapi asalkan tidak melanggar hukum adat dan kepercayaan
maka masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang ramah.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.
Pada hakikatnya masyarakat pedesaan adalah masyarakat pendukung seperti sebagai petani yang menyiapkan bahan pangan, sebagai PRT atau pekerjaan yang biasanya hanya bersifat pendukung tapi terlepas dari itu masyarakat pedesaan banyak juga yang sudah berpikir maju dan keluar dari hakikat itu.
f. Unsur-Unsur Desa
1. Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal
geografis.
2. Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah
pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat
3. Tata Kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan
dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.
g. Fungsi Desa
1. Desa yang merupakan hinterland atau daerah
dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok
2. Desa ditinjau dari sudut pemberian ekonomi
berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja yang tidak kecil artinya.
3. Desa dari segi kegiatan kerja desa dapat
merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan
h. Perbedaan Masyarakat Perkotaan dengan
Masyarakat Pedesaan
Berikut ini ciri-ciri karakteristik masyarakat desa, yang
terkait dengan etika dan budaya mereka yang bersifat umum.
- Sederhana
- Mudah curiga
- Menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku didaerahnya
- Mempunyai sifat kekeluargaan
- Lugas atau berbicara apa adanya
- Tertutup dalam hal keuangan mereka
- Perasaan tidak ada percaya diri terhadap masyarakat
kota
- Menghargai orang lain
- Demokratis dan religius
- Jika berjanji, akan selalu diingat
Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu:
- kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan
kehidupan keagamaan di desa. Masyarakat kota hanya melakukan kegiatan
keagamaan hanya bertempat di rumah peribadatan seperti di masjid, gereja,
dan lainnya.
- orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri
tanpa bergantung pada orang lain
- di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk
disatukan, karena perbedaan politik dan agama dan sebagainya.
- jalan pikiran rasional yang dianut oleh masyarkat
perkotaan.
- interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada
faktor kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.
Hal tersebutlah yang membedakan antara karakteristik
masyarakat perkotaan dan pedesaan, oleh karena itu, banyak orang-orang dari
perkotaan yang pindah ke pedesaan untuk mencari ketenangan, sedangkan
sebaliknya, masyarakat pedesaan pergi dari desa untuk ke kota mencari kehidupan
dan pekerjaan yang layak untuk kesejahteraan mereka.
B. Pertentangan
Sosial dan Integrasi Masyarakat
a. Jelaskan perbedaan kepentingan
Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku
individu. Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi
kepentingannya, sama halnya dengan konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh
perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.
perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan
dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan
situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang
tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat
lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Banyak rakyat dan pemimpin negara yang mempunyai argumen
masing-masing untu kepentingannya. Namun Kadang juga secara terioristis,
perbedaan kepentingan dapat menimbulkan masalah yang besar bagi orang yang
melakukanya. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif
yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada
tingkatan organisasi. Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang
sangat dekat hubungannya dengan stres. Ada pun dibawah ini yang merupakan
bagian dari faktor penyebab konflik :
1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan
perasaan.
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk
pribadi-pribadi yang berbeda.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam
masyarakat. Namun dibalik konflik tersebut terdapat sebuah Lubang hitam yang
begitu besar yang bisa menghantui siapa saja , dibawah ini merupakan akibat
dari konflik :
- meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok
(ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
- keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
- perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya
rasa dendam, benci, saling curiga dll.
b. Jelaskan tentang diskriminasi dan
ethosentris
Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui
fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Awalnya istilah ini merujuk pada
penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang
bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan
pada bidang lain selain ras. Pengertiannya sekarang menjadi sikap yang tidak
masuk akal yang tidak terpengaruh oleh alasan rasional
John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga
kategori.
- Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap
benar.
- Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan
tidak disukai.
- Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan
seseorang dalam bertindak.
Beberapa jenis diskriminasi terjadi karena prasangka dan dalam
kebanyakan masyarakat tidak disetujui.
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil
terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan
karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan
suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan
karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.
Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena
karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran
politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari
tindakan diskriminasi
Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau
kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis
kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.
Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang
bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.Diskriminasi
ditempat kerja
Diskriminasi dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk:
- dari struktur upah,
- cara penerimaan karyawan,
- strategi yang diterapkan dalam kenaikan jabatan, atau
- kondisi kerja secara umum yang bersifat diskriminatif.
Diskriminasi di tempat kerja berarti mencegah seseorang
memenuhi aspirasi profesional dan pribadinya tanpa mengindahkan prestasi yang
dimilikinya.
Teori statistik diskriminasi berdasar pada pendapat bahwa
perusahaan tidak dapat mengontrol produktivitas pekerja secara individual.
Alhasil, pengusaha cenderung menyandarkan diri pada karakteristik-karakteristik
kasat mata, seperti ras atau jenis kelamin, sebagai indikator produktivitas,
seringkali diasumsikan anggota dari kelompok tertentu memiliki tingkat
produktivitas lebih rendah.
Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang
yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan
budayanya sendiri. “ ( The Random House Dictionary ).
Ada satu suku Eskimo yang menyebut diri mereka suku Inuit
yang berarti “penduduk sejati” [Herbert, 1973, hal.2]. Sumner menyebutkan
pandangan ini sebagai etnosentrisme, yang secara formal didefinisikan sebagai
“pandangan bahwa kelompoknya sendiri” adalah pusat segalanya dan semua kelompok
lain dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelompok tadi [Sumner,
1906, hal.13]. Secara kurang formal etnosentrisme adalah kebiasaan setiap
kelompok untuk menganggap kebudayaan kelompoknya sebagai kebudayaan yang paling
baik.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh
dengan identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan
Samovar mendefinisikan etnosentrisme seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan
budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu kecenderungan memandang orang
lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan
kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita dengan
mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh
mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya
kita sendiri, sebagai yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang.
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri. Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain, bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah. Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali “keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat, yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris, tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam kadar etnosentris seseorang.
c. Jelaskan pertentangan dan
ketegangan dalam masyarakat
Konflik mengandung pengertian tingkah laku yang lebih luas
daripada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai
pertentangan yang kasar. Terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri dasar
dari suatu konflik, yaitu terdapat dua atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat
dalam konflik unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam
kebutuhan, tujuan, masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan terdapat interraksi
diantar bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut Konflik merupakan suatu
tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan
dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada lingkungan diri
seseorang, kelompok, dan masyarakat. Adapun cara pemecahan konflik tersebut :
- Elimination, pengunduran diri dari salah satu pihak
yang terlibat konflik
- Subjugation atau Domination, pihak yang mempunyai
kekuasaan terbesar dapat memaksa pihak lain untuk mengalah
- Majority Rule, artinya suara terbanyak yang ditentukan
dengan voting
- Minority Consent, artinya kelompok mayoritas yang
menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima
keputusan serta kesepakatan untuk melakukan kegiatan bersama
- Compromise, artinya semua sub kelompok yang terlibat
dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah
- Integration, artinya pendapat-pendapat yang
bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai
kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak
- Masyarakat majemuk dan Nasional Indonesia. Masyarakat
Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari
berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kekuatan
nasional yang berwujud Negara Indonesia. Untuk lebih jelasnya dikemukakan
aspek dari kemasyarakatan tersebut:
Suku bangsa dan kebudayaan, Indonesia terdiri dari sejumlah
suku bangsa dengan berbagai kebudayaan.
- Agama, Indonesia memiliki toleransi yang besar terhadap
berbagai kepercayaan. Bahasa, pada suku-suku bangsa yang bermacam-macam
itu terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Nasional Indonesia,
adalah merupakan kesatuan solidaritas yang terbentuk sebagai hasil
perjuangan kemerdekaan Indonesia.
- Intergrasi Masalah besar yang dihadapi Indonesia
setelah merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk.
Integrasi bukan peleburan, tetapi keserasian persatuan.
Variable-variabel yang dapat menjadi penghambat dalam
integrasi adalah:
- Klaim/tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang
dianggap sebagai miliknya.
- Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan
kehidupan ekonomi antara warga Negara Indonesia asli dan keturunan
(Arab/Cina).
- Agama, sentiment agama dapat digerakan untuk
mempertajam perbedaan kesukuan.
- Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap
seseorang anggota golongan tertentu.
- Integrasi sosial integrasi sosial (masyarakat) dapat
diartikan adanya kerja sama dari seluruh anggota masyarakat mulai dari
individu, keluarga, lembaga masyarakat secara keseluaruhan. Sumpah pemuda
28 Oktober 1928, merupakan bukti sejarah perwujudan solidaritas sosial
yang begitu kental antar golongan pemuda. Pada hakikatnya bangsa Indonesia
adalah satu corak ragam budaya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa
yang menjadi modal mengembangkan budaya bangsa seluruhnya, sehingga
menjadi modal dasar bagi terwujudnya Integrasi sosial-Integrasi Nasional.
d. Golongan-golongan yg berbeda dan integrasi
sosial
Masyarakat Majemuk dan National Indonesia terdiri dari :
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat
majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial
yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia.
Aspek-aspek dari kemasyarakatan :
1. Suku bangsa dan kebudayaannya.
2. Agama
3. Bahasa
4. Nasional Indonesia.
e. Definisi integrasi nasional
Integritas Nasional identik dengan integritas bangsa yang
mempunyai pengertian suatu proses penyatuan atau pembauran berbagai aspek
sosial budaya ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan identitas nasional atau
bangsa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989) yang harus dapat menjamin
terwujudnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam mencapai tujuan
bersama sebagai suatu bangsa. Integritas nasional sebagai suatu konsep dalam
kaitan dengan wawasan kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan
pada aliran pemikiran/paham integralistik yang dicetuskan oleh G.W.F. Hegl
(1770-1831).
Pengertian ini berhubungan dengan paham idealisme untuk
mengenal dan memahami sesuatu harus dicari kaitannya satu dengan yang lain. Dan
untuk mengenal manusia harus dikaitkan dengan masyarakat di sekitarnya dan
untuk mengenal suatu masyarakat harus dicari kaitannya dengan proses sejarah.
Istilah Integritas Nasional terdiri dari dua kata yaitu
“Integritas” dan “Nasional”. Istilah “integritas” mempunyai arti “mutu, sifat,
atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan
kemampuan yang memancarkan kewibawaan” (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 2005),
sedangkan istilah “nasional” mempunyai arti kebangsaan, bersifat bangsa sendiri
yang meliputi suatu bangsa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989), berupa adat
istiadat, suku, warna kulit, keturunan, agama, budaya, wilayah/daerah.
Integritas nasional wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa Indonesia
dalam kehidupan bernegara (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, 2008).
Setelah pengertian integrasi kita dikupas di atas, maka
disintegrasi bangsa dapat dikatakan lawan arti dari integrasi bangsa.
Disintegrasi bangsa sangat membahayakan keberadaan Negara ini dalam percaturan
kehidupan bernegara di dunia. Dapat diartikan pula kondisi pecahnya kesatuan
dan persatuan bangsa kita. Persatuan dan kesatuan ini dapat dilihat dalam
kontek kewilayahan maupun kebangsaan yang meliputi kesatuan ekonomi, politik,
social budaya, ideology dan pertahanan keamanan.
Daftar Pustaka
http://kanissaputri.blogspot.com/2013/01/aspek-positif-dan-negatif-perkotaan.html
http://ipskreatif.pun.bz/ciri-ciri-desa.xhtml - See more at: http://adrianjourneys.blogspot.com/2014/12/isd-iii-masyarakat-pedesaan-dan.html#sthash.kxeb23gg.dpuf
https://taufikhidayah21.wordpress.com/5-unsur-lingkungan-perkotaan/
https://akhman.wordpress.com/2012/01/04/perbedaan-kepentingan/ - http://adrianjourneys.blogspot.com/2014/12/isd-iii-masyarakat-pedesaan-dan.html#sthash.kxeb23gg.dpuf