Permisi
guys ini ada artikel nihh tentang “Pro” & “Kontra” Natal dan Tahun Baru
Masehi……penasaran yahh simak yuuk artikelnya JJ
Tentunya kalian sudah pada tau yaa Malam PergantianTahun atau sering biasa
disebut Tahun Baru Masehi.
Pasti semua kalangan masyarakat tidak pernah ketinggalan dengan namanya tahun baruan,bener ga sihh??
khususnya bagi umat muslim sebaiknya jangan pernah merayakan malam pergantian tahun.
Kita harus yakin dan sangat berharap tidak ada dari kalangan umat Islam yang ikut merayakan datangnya tahun baru Masehi untuk meniru dan menyemarakkan ritual agama lain. Dan mungkin hanya sebagian saja sekedar ikut-ikutan takut dibilang tidak anak gaul. Apalagi yang membuat kita prihatin adalah pelakunya banyak dari kalangan generasi muda Islam, sehingga dapat dipastikan mereka selama ini kurang mendapatkan pendidikan agama secara benar di sekolah maupun di dalam keluarganya. Jika saja mereka tau sejarah tahun baru Masehi pastilah tidak akan ikut merayakannya.
Pasti semua kalangan masyarakat tidak pernah ketinggalan dengan namanya tahun baruan,bener ga sihh??
khususnya bagi umat muslim sebaiknya jangan pernah merayakan malam pergantian tahun.
Kita harus yakin dan sangat berharap tidak ada dari kalangan umat Islam yang ikut merayakan datangnya tahun baru Masehi untuk meniru dan menyemarakkan ritual agama lain. Dan mungkin hanya sebagian saja sekedar ikut-ikutan takut dibilang tidak anak gaul. Apalagi yang membuat kita prihatin adalah pelakunya banyak dari kalangan generasi muda Islam, sehingga dapat dipastikan mereka selama ini kurang mendapatkan pendidikan agama secara benar di sekolah maupun di dalam keluarganya. Jika saja mereka tau sejarah tahun baru Masehi pastilah tidak akan ikut merayakannya.
Memang
dalam Islam tidak boleh meniru ritual atau meniru cara-cara umat dari agama
lain. Sebagian ulama menyatakan tidak ada ritual khusus dan doa-doa khusus yang
terkait dengan tahun baru Masehi. Jika niatnya untuk beribadah, mendekatkan
diri kepada Sang Pencipta (Allah SWT) tentunya boleh kapan dan di mana saja,
tidak terkecuali tatkala ada peringatan datangnya tahun baru Masehi.
Kadang kalanya langkah ini hanya buat amannya saja.
Tidak
terlepas dari sejarah tahun baru Masehi, agama Islam sendiri jelas memandang
tahun bru Masehi dseperti yang termaktub dalam Firman Allah SWT QS. al-Furqan
ayat 72, yang artinya: “Dan orang-orang tidak memberikan persaksian palsu,
dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya.” Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-Zur”
(perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah). Menurut ulama Tafsir, maksud al-Zur adalah
perayaan-perayaan orang kafir (Ibn Kasir, 6/130). Jelas dari pada ayat ini
Allah melarang kaum muslimin menghadiri kaum musyrikin.
Demikian
dijelaskan pula dalam Hadis Sahahih al-Bukhori dan Muslim. Berikut ini, sabda
Rasulullah SAW yang artinya: “Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada
perayaannya dan hari ini (Idul Adha) adalah perayaan kita.” Oleh Syek Ibnu
Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud hadis tersebut bahwa dilarang melahirkan
rasa gembira pada perayaan kaum musyrikin dan meniru mereka (dalam perayaan).
(Fathul Bari, 3/371).
Menengok
sejarah, pandangan Islam serta adat Islami dalam masyarakat di Indonesia pada
umumnya. Tidak ada celah sedidkit pun bagi umat Islam untuk ikut merayakan atau
sekedar untuk mengucapkan “happy new years“. Kenyataannya, pada malam
tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk
dilewatkan. Muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu
pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang momen tersebut
“haram” untuk dilewatkan.
Maka
sudah sepantasnya umat Islam harus menghidupkan kembali syiar-syiar Islam. Jika
tidak, tradisi Islam akan tergerus tanpa ada yang peduli. Toh, kita semua ini
manusia yang harus taat dan menjunjung tinggi aturan Allah. Tidak ada alasan
untuk menafikan syiar-syiar Islam. Pantaskah kita menenggelamkan syiar Islam
dan menghidupkan syiar budaya Barat?
Menurut
defenisi yang dibuat kaum Kristiani sendiri bahwa Christ’s
Mass (Perayaan Natal) is an annual commemoration of the birth of Jesus Christ
(Wikipedia), yakni acara/perayaan tahunan dari kelahiran Tuhan
Yesus. Sebab itu, Muslim yang berakal sehat akan mengalami kesulitan untuk
memahami bahwa peringatan Natal itu tidak ada kaitannya dengan agama, melainkan
sebuah budaya belaka, sebab itu tidak masalah jika umat Islam mengucapkan
selamat Natal atau mengikuti acara Natal bersama.
Sedangkan kaum Kristianinya sendiri sebagai yang punya
gawe mengakui acara perayaan tersebut ialah terkait langsung dengan perayaan
kelahiran Tuhan Yesus.
Agar perkara Natal ini menjadi makhluk yang berwujud
nyata dan tidak mudah dipelintir ke sana dan kemari oleh orang-orang Islam
sendiri yang memiliki agenda terselubung di balik itu, maka ada dua pertanyaan
mendaasar yang perlu dijawab : Pertama, apakah Yesus itu Tuhan? Kedua, apakah
dia pernah menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan?
1. Menurut Kaum Kristen dan Kitab Suci Mereka.
Semua orang Kristen yakin bahwa Yesus adalah sepenuhnya
Tuhan dalam rupa manusia. Paulus berkata, “Dia adalah gambar dari Allah yang
tidak kelihatan…Di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan
ke-Allahan.” Yohanes mengatakan bahwa Yesus menciptakan dunia ini. Petrus
berkata, “setiap orang yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa
melalui namaNya.”
Maka kata orang-orang Yahudi itu kepadaNya: “Umur-Mu
belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” Kata Yesus
kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku
telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus
menghilang dan meninggalkan Bait Allah. (Yohanes 8:57-59)
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yohanes 13:12-14)
Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yohanes 13:12-14)
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini
kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan,
tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus
kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau
tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;
bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” (Yohanes 14:6-9)
Dari tiga ayat yang tercantum dalam Yohanes tersebut
jelas sekalai bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyatu dengan Allah, sebagai Tuhan
Bapa melaui perkatannya sendiri. Pertanyaanya adalah benarkah demikian? Mari
simak dua ayat Yohanes berikutnya :
“Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang
Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak
pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan
manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab
orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau
melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau,
sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”
(Yohanes 10:30-33)
Tetapi Yesus berseru kata-Nya: “Barangsiapa percaya
kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus
Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku
telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” (Yohanes 12:44-46)
Dari ayat yang pertama, terdapat kotradiktif ketuhanan Yesus antara pengikutnya dan orang-orang Yahudi sehingga orang Yahudi melihat Yesus menyatu (wihdatul wujud) dengan Allah adalah hujatan dan klaim kebohongan terhadap Allah sehingga menyamakan dirinya (Yesus) dengan Allah.
Dari ayat yang pertama, terdapat kotradiktif ketuhanan Yesus antara pengikutnya dan orang-orang Yahudi sehingga orang Yahudi melihat Yesus menyatu (wihdatul wujud) dengan Allah adalah hujatan dan klaim kebohongan terhadap Allah sehingga menyamakan dirinya (Yesus) dengan Allah.
Sedangkan ayat kedua dengan jelas Yesus tidak mengkalim
dirinya sebagai Tuhan, melainkan adalah Rasul/utusan yang diutus Allah. Sekali
lagi, bukan sebagai Tuhan. Kemudian Yseus berkata: Aku telah datang ke dalam
dunia sebagai terang… Berarti ia datang karena ada yang
mendatangkanya/menghadirkannya ke atas bumi.
Dari dua ayat Yohanes etrsebut di atas jelas sekali bahwa
Yesus hanya mengaku sebagai Rasulullah yang diutus Allah ke atas muka bumi,
khususnya untuk Bani Israel. Lalu timmbul pertanyaan, mana yang benar, apakah 3
ayat pertama, atau 2 ayat setelahnya? Ini adalah suatu paradoks yang nyata 180
derajat. Memang beginilah kondisi Kitab mereka penuh dengan paradoks,
kebohongan dan hal-hal yang menjijikkan seprti menuduh di antara Nabi mereka
berzina dan sebagainya.
2. Menurut Al-Qur’an
Sebagai salah satu dari enam syarat menjadi Mukmin atau
disebut juga enam rukun Iman yang wajib kita yakini, seperti yang sudah kita
pahami dan yakini bersama adalah meyakini Al-Qur’an sebagai Kitab Allah
terakhir yang yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, menjadi petunjuk hidup
manusia agar mereka berada di jalan yang benar, lurus dan selamat dunia dan
akhirat, semua isinya mutlak kebenarannya, Al-Qur’an itu berlaku untuk semua
manunisa dan setelah Al-Qur’an turun semua status hukum Kitab-Kitab Allah
sebelumnya menjadi batal, sebab itu Allah pelihara Al-Qur’an itu dari paradoks
dan penyimpangan yang dilakukan manusia. (Suart Al-Baqoroh : 2 – 5 dan 185,
Saba’ ; 28, At-Taubah : 33, Al-Fath : 28, Ash-Shaf : 9, Al-Ahqaf : 30,
Al-Maidah : 48 – 50, An-Nisa’ : 82 dan Al-Hijr : 9).
Nah, mari kita kita tadabburkan (renungkan secara
mendalam) apa kata Al-Qur’an tentang 2 pertanyaan di tas: Apakah Yesus itu
Tuhan? Apakah dia pernah menyatakan bahwa dia adalah Tuhan? Al-Qur’an dengan
lantang menjelaskan :
1. Isa itu adalah hamba, Rasul, Ruh dan tanda
Kekuasaan-Nya di atas bumi. Allah menjelaskan :
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى
اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ
اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآَمِنُوا
بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ
إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا
فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian berlebihan dalam
agama kalian dan jangan pula katakan tentang Allah kecuali yang haq (benar).
Sesungguhnya Al-Masih/Isa itu adalah putra Maryam, Rasul Allah dan tanda
Kekuasan-Nya yang Ia anugerahkan kepada Maryam dan (tiupan) ruh dari-Nya. Maka
berimanlah kalian kepada Allah (tampa menyekutukan-Nya), dan rasul-Nya dan
janganlah kalian sekali-kali mengatakan “trinitas” (Tuhan itu tiga oknum).
Berhentilah kalian (dari trinitas itu), tentulah lebih baik bagi kalian.
Sesungguhnya Allah itu Tuhan yang Esa, Maha Suci Dia dari memiliki anak.
Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi dan cukuplah Allah sebagai
wakil (tempat berserah diri). (An-Nisa’ : 171)
2. Isa tidak
pernah mengatakan dirinya Tuhan, atau menyatu dengan Allah dan ucapan-ucapan
mungkar dan kemusyrikan lainnya. Allah menjelaskan :
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ
اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا
يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ
عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ
أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (116) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا
دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ
وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (117) إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ
عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (118)
Dan ketika Allah berkata : Wahai Isa putra Maryam! Apakah
engkau mengatakan pada manusia : “Jadikanah aku dan ibuku tuhan di samping
Tuhan Allah”. Ia (Isa) berkata : Maha Suci Engkau , tidak pantas bagiku
mengatakan yang tidak akau yakini kebenarannya. Jika aku katakan, pasti Engkau
mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak tahu
apa apa yang ada dalam diri-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui yang
ghaib. Aku tidak katakan pada mereka melaikan seperti apa yang Engkau
perintahkan padaku bawah sembahlah Allah Tuhan penciptaku dan Tuhan Pencipta
kalian. Akau menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah
mereka. Setelah Engkau wafatkan aku, Engkau memonitor mereka dan Engkau
Menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau azab mereka, mereka adalah
hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau anpuni mereka, Engkau adalah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (Al-Maidah : 116 – 118)
3. Isa bukan
dilahirkan bulan Desember atau musim dingin, melainkan musim panas (antara Juni
dan Agustus), yakni saat musim panen kurma. Allah menjelaskan :
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا
مَكَانًا شَرْقِيًّا (16) فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا
إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا (17) قَالَتْ إِنِّي
أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا (18) قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ
رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا (19) قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ
وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20) قَالَ كَذَلِكِ قَالَ
رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آَيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا
وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا (21) فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا
قَصِيًّا (22) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا
لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ
تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي
إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)
Dan ceritakanlah (kisah) Maryam (kepada mereka) di dalam
Al-Qr’an, yaitu ketiak ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat
sebelah timur. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari pandangan
mereka, lalu Kami mengutus Jibril kepadanya. Maka Jibril itu muncul dalam
bentuk manusia yang sempurna. Ia (Maryam) berkata : Sesungguhnya akau
berlindung darimu kepada yang Maha Penyayang jika kamu seorang bertaqwa. Ia
(Jibril) berkata : Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan Penciptamu untuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci. Ia (Maryam) berkata : Mana mungkin
aku mendapatkan seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh
seorang manusia pun dan aku bukan pula seorang pezina? Ia (Jibral) berkata :
Demikianlah, Tuhan Penciptamu berfirman : Bagi-Ku mudah saja dan karena Kami
hendak menjadikannya (putra Maryam) salah satu tanda (kekuasaan-Ku) bagi
manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan ini adalah suatu perkara yang sudah
diputuskan. Maka iapun (Maryam) mengandungnnya (isa) dan pergi ke tempat yang
jauh. Maka rasa sakit melahirkan memaksanya untuk bersandar ke pangkal pohon
kurma, lalu ia berkata : Sekiranya aku mati sebelum ini dan aku pasti akan
dilupakan (manusia). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah : Janganlah
kamu bersedih dan Tuhan Penciptamu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan
goyanglah pohon kurma itu ke arahmu ia akan menjatuhkan ruthaban janiyya (buah
kurma yang ranum) kepadamu. (Maryam : 16 – 25)
4. Ahlul Kitab
(Yahudi dan Nasrani) menganut paham atau akidah syirik dan mereka adalah kafir.
Allah menjelaskan :
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى
الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30)
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31)
Orang-orang Yahudi berkata : Uzair itu anak Allah dan
orang-orang Nasrani itu berkata : Al-Masih/Isa itu anak Allah. Itu adalah
ucapan kosong mereka belaka, mereka meniru ucapan orang-orang kafir sebelumnya.
Allah melaknat mereka. Mengapa mereka bisa berpaling dari kebenaran? Mereka
juga menjadikan Ahbar dan Ruhban (ulama mereka) tuhan-tuhan tandingan selain
Allah dan Al-Masih putra Marya. Sedangkan mereka tidak diperintahkan melainkan
menyembah Allah sebagai Tuhan yang Esa. Tidak ada tuhan yang berhak disebmbah
selain Dia, Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah : 30 – 31)
5. Ahlul Kitab
(Yahudi dan Nasrani) menginginkan umat Islam menjadi kafir, murtad dan musyrik
seperti mereka dan tidak ridha sama sekali jika umat Isalm istiqamah dalam
Tauhid (mengesakan Allah). Sebab itu, mereka senantiasa memerangi umat Islam
dengan senjata (Al-ghazwul Askari), pemikiran (Al-Ghazwul Fikri) dan perang
budaya (Al-Ghazwul Hadhari) sehingga umat Islam murtad dari Islam. Allah
menjelaskan :
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ
إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ
بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (109)
Dan banyak dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)
menginginkan jika mereka dapat memurtadkan kalian (kaum Muslimin) setelah
kalian beriman (dengan Tauhid), karena hasad yang ada dalam diri mereka setelah
nyata bagi mereka kebnaran (Al-Qur’an dan Muhammad Saw.) Maka maafkan dan
biarkan mereka sampai Allah mendatangkan perintah-Nya (memerangi mereka).
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqoroh : 109).
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ
أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ
وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (120)
Dan kaum yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha
kepadamu (Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah!
Sesungguhnya hidayah (petunjuk) Allah itu (Al-Qur’an) lah pentunjuk yang
sebenarnya. Dan jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka, setelah datang
kepadamu ilmu (wahyu Al-Qur’an) maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan
Penolong bagimu. (Al-Baqoroh ; 120)
6. Acara
perayaan menyambut tahun baru dengan menyalakan kembang apai (tradisi majusi),
petasana, meniup terompet (tradisi Yahudi), buang-buang waktu karena menunggu
jam 00.00, tenaga dan uang kepada yang tidak bermanfaat untuk kebaikan dunia
dan akhirat, semua itu adalah meniru-niru kebiasaan orang kafir dan perbuatan
setan. Merayakan tahun baru Masehi itu bukan hanya jatuh kepada perbuatan
sia-sia, akan tepai perbuatan ma’siat, mubazir dan kufur nikmat. Allah
menjelaskan :
وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا
تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)
Dan berikanlah hak karib kerabat itu dan orang-orang
miskin dan ibnussabil dan jangalah kamu melakuakn kemubaziran. Sesungguhnya
orang-orang yang melakukan mubazzir itu adalah saudara setan dan setan itu
telah kafir kepada Tuhan Penciptanya. (Al-Isro’ : 26 – 27).
Dari uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Peringatan hari Natal jelas sebuah acara memperingati
lahirnya Tuhan Yesus. Sebab itu, mengikuti acara Natal atau mengucpkan selamat
Natal akan mempengaruhi keimanan dan Tauhid umat Islam sehingga menjadi
keimanan syirik ala Yahudi dan Nasrani. Bagi yenga melakukannya dengan sengaja
dan tahu bahwa hal tersebut terkait dengan kemusyrikan yang Allah murkai, maka
imanya BATAL, kecauali jika ia diapksa mepakukannya dengan ancaman pembunuhan.
Namun dengan syarat, hatinya tetap menolak dan mengakui hal tersebut adalah
haram dam tidak boleh dilakukan.
2. Begitu pula dengan mengikuti acara menyambut tahun
baru Masehi dengan cara-cara yang disebutkan di atas dapat menyebabkan para
pelakunya yang Muslim menjadi kufur nikmat dan mendeklarasikan diri menjadi
saudara-saudara setan.
3. Ikut merayakan atau mengucapkan selamat Natal 25 Desember
adalah melakukan kebhongan sejarah kelahiran Nabi Isa Alaihissalam.
4. Ikut merayakan atau mengucapkan selamat Natal 25
Desember adalah terlibat secara langsung, disadari atau tidak, mendukung upaya
pemurtadan umat Islam yang dilakukan kalangan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani).
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, saya sebagai
seorang Muslim menghimbau saudara-saudara seiman di Indonesia :
1. Agar tidak ikut-ikutan merayakan atau mengucapkan
selamat Natal dan perayaan tahun Baru Masehi karena akan merusak akidah Tauhid
kita, kecerdasan kta, keilmuan kita, kejujuran kita, akhlak kita, life style
kita, dan secara langsung terlibat melakukan konspirasi bersama kaum Nasrani
dalam upaya memurtadkan umat Islam dengan bebagai cara, di antaranya acara
peringatan Natal, ucapan selamat Natal dan acara menyambut awal tahun baru
Masehi.
2. Bagi saudara-saudara Muslim yang berbuat demikian,
hendaklah segera bertaubat kepada Allah dengan Taubatan Nashuha, sebelum ajal
menjemput, karena perbuatan tersebut dan juga semua perbuatan yang lain akan
dimintakan pertanggungjawabannya kelak di sisi Allah. Janganlah cinta dunia,
pangkat dan ketenaran menyebabkan kita buta mata hati terhadap
peringatan-peringatan dan penjelasan-penjelasan Allah dalam Al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya.
3. Ingatlah! Yang murka terhadap perbuatan syirik
(menyekutukan Allah) dan perbuatan kekufuran lainnya bukan hanya Allah sebagai
Tuhan Pencipta manusia, akan tetapi langit, bumi dan gunung sebagai makhluk Allah-pun
jugaikut murka. Allah mejelaskan :
“Dan mereka berkata : Tuhan Yang Maha Pengasih itu
mempunyai anak. (Dengan ucapan itu) Sungguh kamu telah melakukan sesuatu
perbuatan yang amat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah dan
gunung-gunung roboh. Karena mereka mengklaim Allah yang Maha Pengasih itu
memiliki anak. Dan Tidak pantas bagi yang Maha Pengasih itu memiliki anak.
(Maryam : 88 – 92)
4. Gunakanlah waktu luang, kesehatan dan kesempatan
hari-hari libur sejak 25 Desember sampai 1 Januari nanti untuk meningkatkan
kualitas ilmu Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw.), iman, ibadah dan
berbagai amal sholeh lainnya.
5. Infakkanlah harta dan uang yang mungkin sudah dianggarkan untuk berlibur dan acara menyambut tahun baru itu ke jalan Allah. Allah pasti membalasnya berlipat ganda bahkan lebih dari 700 kali lipat. (Al-Baqoroh : 261)
5. Infakkanlah harta dan uang yang mungkin sudah dianggarkan untuk berlibur dan acara menyambut tahun baru itu ke jalan Allah. Allah pasti membalasnya berlipat ganda bahkan lebih dari 700 kali lipat. (Al-Baqoroh : 261)
Semoga Allah selalu berkenan memberikan hidayah dan
taufiq-Nya kepada kita sampai akhir hayat… Yaa Allah, aku telah sampaikan, maka
saksikanlah… Yaa Allah, aku telah sampaikan, maka saksikanlah… Yaa Allah, aku
telah sampaikan, maka saksikanlah…J
amiin amiin yaa rabbal ‘alamin J
amiin amiin yaa rabbal ‘alamin J
Ga terasa yaah
nyimak artikel tadi tau-taunya udah abis hehehe
Sampai jumpa d
artikel selanjutnya yaa guys J
when there is a shortage or error in order
to proclaim the word please .....(˘ʃƪ˘)
and thank you
for visiting my blog…….(。♥‿♥。)
Daftar Pustaka